Jejak-jejak hidupmu dimasa depan adalah hasil dari kaki-kaki yang selalu melangkah kearah yang kamu ciptakan sendiri sekarang dan masa lalu. Maka, jadikan dia indah dan semestinya.
Sunday, 26 March 2017
Manusia, cinta dan kehidupan
Lewat cinta yang liar, desahan nafas panjang
Malam yang larut, siang yang menggebu dan pagi yang menjamu
atau...
Melalui kekecewaan, penyesalan yang panjang
Cinta yang bertepuk sebelah tangan : penolakan
Cinta yang tak dikenal : dijodohkan
penggadaian rasa, harta dan bahkan martabat
Kehormatan tiada tara atau sebaliknya
Sebagian dari kita diciptakan hanya karena tanggung jawab
Tak selamanya dari cinta, setengahnya omong kosong
Dari kehidupan itu sendiri kita belajar cinta
Karena kita manusia adalah ego yang serakah
Serakah untuk cinta, karena cinta itu sendiri memang serakah
Namun,
Lewat ayah dan ibulah mungkin bukti nyatanya
Bahwa dari semua itu selalu ada sisilainnya
Selalu aa hitam dan putih, bukankah itulah hidup, itulah cinta?
Karena pada hakikatnya
Cinta adalah
Penolakan, penerimaan, pengikhlasan, pengertian
Bukan hanya ciuman panjang memabukkan
Dekapan hangat menyejukkan
Bukan hanya sekedar kata sayang
Tapi penerimaan tanpa pengejawantahan
Dan ikhlas tanpa syarat
Monday, 31 October 2016
Tentang malam dengan banyak rindu
Bukankah terlalu cepat
Datangnya kau malam pekat?
Padahal sejenak
Baru menikmati senja seolah dekat
Inginku hentikan waktu
Kala itu
Ketika hanya ada aku
Dan kamu terpaku
Menatap jingga yang malu
Kamu kekasih...
Sebab cipta rindu dengan rapih
Aku bisa apa kasih?
Ketika tentang rindu saja aku masih
Seperti bayi yang tak mengerti
Barangkali diantara jarak dan waktu
Selalu terbayar untuk rindu
Ketika temu itu bertamu
Sabdakan sebanyak hati hingga tak ada lagi semu
Selayaknya waktu yang lewatkan masa-masa kelabu
Aku berfantasi dengan asa
Berharap begitupun nanti nyata
Sehingga tak ada lagi bisik terasa
Namun,
Ketika semua kembali pada satu arti
Bahwa semua yang tentang hati
Adalah masalah tak penting harus itu dan ini
Yang ada hanya hati yang mencari
Sendiri
Karena tentang hati
Selalu mempunyai arti
Yang selamanya tahu sendiri
Sampai dimana dan sejauh mana terpatri
Begitulah kita
Menerobos pertahanan yang sudah ada sejak lama
Mencoba peruntungankah?
Atau siapa tahu ada dewi fortuna
Bukankah tak ada kebetulan didunia
Sampailah pada saat dimana konsekuensi harus dilewati
Entah itu berlari, tertatih yah harus dijalani
Bukankah cinta itu bukan hanya sekedar ilusi?
Maka langkahi dia dengan pasti
Karena yang aku tahu
Cinta kamu
Adalah harga aku
Tentang hati yang dulu beku
Tapi kini kembali tersipu malu
Oh sungguh kamu
Tahu kan kamu
Kalau kini aku jadi rindu?
Tuesday, 1 December 2015
Surat cinta untukmu, papa
Hay papa..
Mungkin ini surat cinta pertamaku untukmu papa,
Tentang perasaan yang telah lama selalu ada dihati,
Yang tanpa disadari memang akan selalu begini..
Maaf papa..
Aku tak pandai merangkai kata,
karena apapun yang kutulis saat ini,
Kutahu lebih dari itu nanti.
Diammu yang selalu menenangkan, papa
Kata-katamu yang selalu menyejukkan, papa
Jarang kudengar marahmu dari katamu,
Belum pernah kulihat bencimu dari matamu,
Dan mungkin takkan pernah kudapati pukulmu dari tanganmu
Karena engkau, papa
Papa yang tak banyak kata,
Papa yang tak banyak keluh,
Papa yang tak banyak protes,
Papa yang tak pernah menolak,
Selalu mengiyakan
Engkau papaku, papa
Yang selalu mendengarkan
Yang selalu menuruti
Yang selalu memperjuangkan
Yang selalu berkorban
Papaku
Yang tak pernah mengecewakan,
Papaku
Yang mungkin tak pernah menolak apa yang kami inginkan
Papa yang selalu menomorsatukan kami
Itulah engkau papa
Mungkin sama seperti papanya kalian,
Tapi yakinlah papaku beda dengan papanya kalian,
Karena papaku papa yang paling penyabar
bagaimana tidak,
Menghadapi anak-anaknya yang keras kepala
Beliau tak pernah berkata-kata kasar,
Beliau mengayomi, menasehati tanpa marah.
Ohh papaku papa
Tetap sehat papa
Tetap selalu ada untuk anak-anakmu
Walaupun mungkin sekarang anak-anakmu sudah mampu hidup sendiri
Namun, papa
selalu tak seperti selamanya ada engkau papa
Tetap disamping kami papa
Mungkin terkadang ada kata yang menodai hati,
Ada tingkah yang melukai perasaan,
Namun, yakinlah papa
Kami anakmu tak bermaksud mengecewakanmu
Terkadang hanya egois semata, papa
karena Masa hidup kami belum banyak dalam menjalaninya
Ohh papa
Betapa ku mencintaimu, papa
Dengan semua aliran darah ditubuhku
Dengan denyutan dinadiku
Helaan nafasku, betapa sungguh aku menyayangimu
Tetap sehat papa
Betapa ku masih membutuhkanmu
Kasih sayangmu tetaplah menjadi penyembuhku
Cintamu penawarku
Marahmu motivasiku
Maafkan kami, papa
Untuk kekecewaanmu sempat terbersit,
Untuk sedihmu sempat terbayang,
Dan mungkin untuk marahmu sempat terlintas
Selalu maafkan kami papa
Selalu kuyakin doamu menyertai hidup kami
Keluhmu pada sujudmu untuk kehidupan kami
Nafas, keringat, hidupmu untuk kami
Terima kasih papa
Untuk tanggung jawabmu
Untuk cinta kasihmu, kasih sayangmu
Untuk doamu, untuk perjuanganmu
Untuk lelahmu, untuk nafkahmu
Memang, bahkan semua dunia seisinya tak sanggup membalasnya papa
Terimalah surat cinta kasih sayang dari kami anakmu
Untukmu papaku terkasih
Dan selalu tersenyumlah untuk kami,
Jangan bersedih,
Selalu ada kami untukmu papa
I love you papa
Saturday, 28 November 2015
Aku dan embun
Pagi yang terbuat dari secercah cahaya
Pagi yang terbuat dr seengok asa
Yang walaupun tak digubris tetap saja menyapa
Yang walaupun tak diharap tetap saja ada
Seperti embun di dedaunan
muncul beserta hawa dingin
Tak peduli akan itu
Meskipun hanya berupa titik yang jenuh
Ku buka jendela kamarku
Jendela yang sama dengan kemarin
Kudapati embun itu
Diantara dedaunan hijau yang menguning
Hati ini bertanya, kapan embun ini tak lagi ada?
Tak lelahkan ada di tiap paginya?
Sedang menertawakankan hidupku yang ada?
Atau memang begini adanya embun ada?
Dan kemudian ku berfikir
Setitik embun pagi saja tetap hadir
Dipagi yang masih dingin menemani fajar
menunggu datangnya matahari berpijar
Bukankan setitik embun itu tak pernah lelah?
Pekat malam tlah berganti pagi cerah
Mimpi tlah berganti kenyataan yang harus dijalani
Walaupun pahit dan tersakiti
Embun itu sekali lagi seperti sedang menertawakan hidupku
Atau perasaanku saja merasa dipermainkan hidup itu
Apa yang kudapat dengan setitik embun pagi
Embun pagi penyejuk dedaunan
Pemberi harapan baru untuk yang tersakiti
Untuk hidupku teman